Minggu, 01 November 2009

Kian Banyak "Facebooker" Dukung Bibit-Chandra

Anri Syaiful

Liputan6.com, Jakarta: Dukungan terhadap dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah, di dunia maya terus mengalir. Ini dapat dilihat di situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Di Facebook, misalnya. Grup milik seorang dosen di Bengkulu dengan nama "Gerakan Satu Juta Facebookers dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto" terus diikuti banyak pengguna Facebook di Indonesia. Bahkan, hingga Senin (2/11) pukul 10.35 WIB, jumlah anggota grup tersebut telah mencapai 333.038 anggota.

Di grup ini, para anggota diimbau menggunakan pita hitam pada lengan sebagai aksi simbolik melawan ketidakadilan terhadap KPK. Di dinding grup "Gerakan Satu Juta Facebookers dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto", banyak komentar dari para anggota yang umumnya memprotes penahananan Bibit dan Chandra oleh kepolisian.

Rio Muhammad, misalnya, menulis: "Saya dukung pemberantasan korupsi, siapa pun pelakunya baik pejabat negara, pejabat Polri, pejabat kejaksaan, pejabat KPK, pejabat cilik sampai pejabat lembaga negara seperti Presiden, DPR, MA, BPK, MK, dll. harus saling dukung antara lembaga yang menangani korupsi, akan tetapi bukan orang per orang yang melakukan korupsi terbebas dari peradilan korupsi."

Tak hanya ramai di situs jejaring sosial, dukungan untuk Bibit dan Chandra mulai marak di sejumlah blog atau situs pribadi. Para blogger bahkan menawarkan diri bagi siapa saja yang ingin mendaftar untuk pasang badan sebagai jaminan atas penahanan dua pimpinan nonaktif tersebut yang kini ditahan di Markas Komando Brigade Mobil, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat

Konflik Bima

Situasi Bima Masih Mencekam

Nurosyidah

Jalan menuju desa yang bertkai di Bima diblokade warga.
Liputan6.com, Bima: Situasi tiga desa di pedalaman Bima, Nusa Tenggara Barat, hingga Ahad (1/11) siang, masih mencekam. Sebagian warga dilaporkan mulai mengungsi ke luar desa untuk menghindari peperangan yang kian panas.

Pascabentrokan, hingga kini belum tampak ada upaya dari Pemerintah Kabupaten Bima untuk menyelesaikan konflik warga. Selain itu, akses yang menghubungkan ketiga desa yang sedang bertikai diblokade warga. Akibatnya warga desa lain tidak bisa melintas ke wilayah tersebut. Mereka harus menempuh jalan memutar yang jaraknya mencapai puluhan kilometer.

Kemarin, ratusan warga dari Desa Ngali, Desa Renda, dan Desa Monta saling serang di perbatasan Desa Ngali dengan Desa Monta. Beberapa kali terdengar letusan tembakan yang diduga berasal dari senjata api rakitan. Bentrokan dipicu penganiayaan saat pertandingan sepakbola yang kemudian berbuntut saling serang antarwarga ketiga desa